Senin, 07 Mei 2012
Kamis, 08 Maret 2012
Keep Your Dream
Waktu ini adalah waktu saya,
hari ini adalah hari saya,
Semangat ini adalah semangat saya.
Raga ini adalah raga saya,
mimpi ini juga mimpi saya,
tapi ingat….!!!! Allah-lah
yang memiliki saya termasuk semua yang saya akui ini..:D
![]() |
| Fatori di Kab.Kediri |
Lupakan masa
lalumu dan raihlah mimpi
mimpimu,
itulah penggalan
kata yang sering aku dengar dan lihat
untuk mensinergikan langkah kaki
ini
menuju masa depan yang cemerlang. waktu itu sekitar jam tujuh malam aku lagi jagain rumah sendirian karena saat itu semua keluargaku ada acara diluar. Bosan
di dalam rumah karna hanya sendirian, ku coba lihat
suasana
di halaman rumah, suasananya sungguh begitu sepi hanya suara jangkrik beserta kawannya yang terdengar saat itu. indahnya malam dan sejuknya cuaca saat ini sangat pas digunakan untuk merenung ditemani
indahnya sinar rembulan yang begitu mempesona. Dalam hati berbisik dan bertanya pada diri ini “Bagaimanakah kehidupanku esok?? mampukah aku melewati tantangan hidup yang datang silih
berganti??setinggi apakah impianku??”. Semua itu penuh dengan teka teki yang
sulit bahkan tak bisa untuk kita memprediksinya.
Aku tertarik mengaitkan bisikan tanya hati tersebut dengan bintang yang
sedang menemani malamku, Bagaimankah kehidupanku nanti?? Hidupku esok seperti
sang bintang yang ada dilangit itu, meskipun kelihatannya kecil dan sangat
tinggi sekali namun aura sinarnya bisa terlihat dengan mata telanjang. Mampukah
aku melewati tantangan hidup yang silih berganti?? Hukumnya harus mampu, sebab
pada dasarnya manusia diciptakan dengan sempurna dan Allah tidak akan memberi
sautu rintangan atau cobaan diluar batas kemampuan manusia. Dan setinggi apa
Impianku?? Seperti bintang pula, itulah jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.
Bicara tentang impian memang gak bakal lepas dengan imajinasi yang kadang
gak masuk akal(Aneh) bahkan melewati batas kemampuan. Itulah mimpi, bunganya
orang tidur.
Menjadi seorang pemimpi
adalah mereka yang dalam hidupnya memiliki banyak mimpi yang jelas maupun tidak dan kebanyakan mereka mempunyai keinginan untuk merealisasikan dalam bentuk kenyataan. Merealisaikan mimpi??? apakah
mampu atau pernahkah kita berpikir tentang hal itu
setelah terbangun dari tidur yang didalamya kita mengalami mimpi indah??berpikir bagaimana langkah-langkah
atau strategi dengan
cara apa agar
mimpi itu bisa jadi
kenyataan, sangat sulit
sekali menemukan orang yang seperti itu. Yang banyak malah orang suka bemimpi
dan ingin sekali mimpi itu jadi real dalam kehidupan tanpa usaha yang berarti,
Sulit banget lah..:D
kadang kita sering ingat lirik lagu nidji yang judulnya laskar pelangi yaitu “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan
dunia”. Lirik tersebut adalah salah
satu vitamin
yang ampuh bagi para pemimpi sejati yang
terobsesi sekali untuk merealisaikan mimpi-mimpi itu.
Namun, kadang kala orang-orang
disekitar kita banyak yang meremehkan
impian yang hendak ingin kita wujudkan itu.
Pernahkah ditertawakan oleh orang-orang
disekitar kita tentang obsesi kita meraih mimpi-mimpi??
Ada yang bilang bahwa kemampuan kita hanya
terbatas untuk meraih mimpi
yang begitu tinggi tesebut, bahkan juga ada yang bilang
“jangan terlalu percaya sama mimpi, mimpi yah hanyalah mimpi, gak mungkin jadi kenyataan dan hanya
mungkin bisa terjadi dalam tidurmu”
Mendengar itu lantas
apa yang harus kita lakukan??Bersedih kah?? Putus asa untuk melanjutkan misi mengejar mimpi itu??
Ataukah menagis saja?? Oh Seorang pemimpi tingkat tinggi gag boleh cemen seperti
itu:D….terus bagaimana???
Yang pertama, kita
harus bersikap tuli terhadap apapun itu yang menjadi pengaruh negatif terhadap diri kita serta yang bisa
memberi rasa pesimis untuk meraih sesuatu yang kita inginkan,
karena dengan sikap seperti itu jiwa optimesme kita akan terus terjaga serta
akan membawa jiwa kedalam raga yang penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri. Yang kedua,
jadikan semua itu sebagai mesin motivator yang paling ampuh untuk memompa semangat untuk terus
berjuang menggapai mimpi.
Dan yang ketiga, cukup tersenyumlah kepada mereka yang
meremehkan mimpi-mimpi kita toh dengan itu mereka akan berhenti sendirinya. Jangan biarkan
keraguan membayangi setiap langkah demi
langkah kaki kita.
Sesuatu apapun itu pasti mungkin, tidak
ada yang tidak mungkin didunia ini. Hanya saja yang membedakan bagaimana cara kita menyikapi setiap
kejadian yang kita alami dengan sikap yang terbaik,
hal itu harus menjadi indikator kita untuk lebih bersemangat dan berusaha
ekstra keras demi mewujudkan impian yang didambakan.
Tapi ada satu hal yang gak boleh dilupakan, hati-hati, jangan sampai dengan
mimpu menyebabkan kita syirik terhadap buah tidur tersebut. Nabi Muhammad saw
membagi mimpi menjadi dua yaitu mimpi yang baik dan mimpi yang buruk. Dalam
hadisnya beliau menuturkan,Artinya:” Mimpi yang bagus berasal dari Allah SWT, jika di
antara kalian bermimpi sesuatu yang bagus (disukai), jangan sekali-kali
menceritakan kepada yang lain, kecuali pada orang yang engkau sukai
(dipercaya). Jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak engkau sukai,
maka mohonlah pertolongan Allah dari kejelekan mimpi itu, dan juga dari
kejelekan syetan, dan meludahlah tiga kali (ke-kiri), selanjutnya tidak
diceritakan kepada siapapun perihal mimpi itu. Niscaya mimpi itu tidak akan
berpenggaruh. (H.R.Bukhori)
Dan inngaaaattttttt…..jangan pernah berhenti bemimpi dan
jangan pernah menyerah mewujudkan mimpi meskipun banyak yang meragukan.
Percayalah suatu saat nanti pasti akan terjadi keajaiban mimpi yang akan
mewarnai hidupmu di masa yang akan datang…..
KEEP YOUR DREAM & KEEP SPIRIT TO REACH YOUR DREAM…ALLAH NEAR IN OUR LIFE.
KEEP YOUR DREAM & KEEP SPIRIT TO REACH YOUR DREAM…ALLAH NEAR IN OUR LIFE.
Selasa, 21 Februari 2012
By. Fatori Pamekasan
Senin, 27 Februari 2012
Detik-Detik Wafatnya Rasulullah
“Wahai umatku, kita semua ada dalam
kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya.
Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa
mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang
mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan
pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu
persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik
turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali
menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah
tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita
semua,”keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai
menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan
Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah
ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir
di sana pasti
akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu
rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang
terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma
yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar
seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi
Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata
Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya
yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai
anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,”
tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya
itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian
wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang
menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia.
Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan
tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa
Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang
sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan
penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di
hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka,
para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti
kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega,
matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar
khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib
umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah
berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad
telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya
Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh
Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut
ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya
menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau
palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat
kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar
Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah,
dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada
umatku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak
lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera
mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku,
peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar
bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya,
dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” –
“Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia
yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma
sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada
kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran
untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita.
Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin…
Langganan:
Postingan (Atom)






