Kamis, 08 Maret 2012

Keep Your Dream


Waktu ini adalah waktu saya,
hari ini adalah hari saya,
Semangat ini adalah semangat saya.
Raga ini adalah raga saya,
mimpi ini juga mimpi saya,
tapi ingat….!!!!  Allah-lah yang memiliki saya termasuk semua yang saya akui ini..:D
Fatori di Kab.Kediri
Lupakan masa lalumu dan raihlah mimpi mimpimu, itulah penggalan kata yang sering aku dengar dan lihat  untuk mensinergikan langkah kaki ini menuju masa depan yang cemerlang. waktu itu sekitar  jam  tujuh  malam aku lagi jagain rumah sendirian karena saat itu semua keluargaku ada acara diluar. Bosan di dalam rumah karna hanya sendirian, ku coba lihat suasana di halaman rumah, suasananya sungguh begitu sepi hanya suara jangkrik beserta kawannya yang terdengar saat itu. indahnya malam dan sejuknya cuaca saat ini sangat pas digunakan untuk merenung ditemani indahnya sinar rembulan yang begitu mempesona. Dalam hati berbisik dan bertanya pada diri iniBagaimanakah kehidupanku esok?? mampukah aku  melewati tantangan hidup yang datang silih berganti??setinggi apakah impianku??”. Semua itu penuh dengan teka teki yang sulit bahkan tak bisa untuk kita memprediksinya.
Aku tertarik mengaitkan bisikan tanya hati tersebut dengan bintang yang sedang menemani malamku, Bagaimankah kehidupanku nanti?? Hidupku esok seperti sang bintang yang ada dilangit itu, meskipun kelihatannya kecil dan sangat tinggi sekali namun aura sinarnya bisa terlihat dengan mata telanjang. Mampukah aku melewati tantangan hidup yang silih berganti?? Hukumnya harus mampu, sebab pada dasarnya manusia diciptakan dengan sempurna dan Allah tidak akan memberi sautu rintangan atau cobaan diluar batas kemampuan manusia. Dan setinggi apa Impianku?? Seperti bintang pula, itulah jawaban yang tepat atas pertanyaan itu.
Bicara tentang impian memang gak bakal lepas dengan imajinasi yang kadang gak masuk akal(Aneh) bahkan melewati batas kemampuan. Itulah mimpi, bunganya orang tidur.
Menjadi seorang pemimpi adalah mereka yang dalam hidupnya memiliki banyak mimpi yang jelas maupun tidak dan kebanyakan mereka mempunyai keinginan untuk merealisasikan dalam bentuk kenyataan. Merealisaikan mimpi??? apakah mampu atau pernahkah kita berpikir tentang hal itu setelah terbangun dari tidur yang didalamya kita mengalami mimpi indah??berpikir bagaimana langkah-langkah atau strategi dengan cara apa agar mimpi itu bisa jadi kenyataan, sangat sulit sekali menemukan orang yang seperti itu. Yang banyak malah orang suka bemimpi dan ingin sekali mimpi itu jadi real dalam kehidupan tanpa usaha yang berarti, Sulit banget lah..:D
kadang kita sering ingat lirik lagu nidji yang judulnya laskar pelangi  yaitu “mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan dunia”. Lirik tersebut adalah salah satu vitamin yang ampuh bagi para pemimpi sejati yang terobsesi sekali untuk merealisaikan mimpi-mimpi itu.
Namun, kadang kala orang-orang disekitar kita banyak yang meremehkan impian yang hendak ingin kita wujudkan itu. Pernahkah ditertawakan oleh orang-orang disekitar kita tentang obsesi kita meraih mimpi-mimpi?? Ada yang bilang bahwa kemampuan kita hanya terbatas untuk meraih mimpi yang begitu tinggi tesebut, bahkan juga ada yang bilang “jangan terlalu percaya sama mimpi, mimpi yah hanyalah mimpi, gak mungkin jadi kenyataan dan hanya mungkin bisa terjadi dalam tidurmu”
Mendengar itu lantas apa yang harus kita lakukan??Bersedih kah?? Putus asa untuk melanjutkan misi mengejar mimpi itu?? Ataukah menagis saja?? Oh Seorang pemimpi tingkat tinggi gag boleh cemen seperti itu:D….terus bagaimana???
Yang pertama, kita harus bersikap tuli terhadap apapun itu yang menjadi pengaruh negatif terhadap diri kita serta yang bisa memberi rasa pesimis untuk meraih sesuatu yang kita inginkan, karena dengan sikap seperti itu jiwa optimesme kita akan terus terjaga serta akan membawa jiwa kedalam raga yang penuh dengan keyakinan dan kepercayaan diri. Yang kedua, jadikan semua itu sebagai mesin motivator yang paling ampuh untuk memompa semangat untuk terus berjuang menggapai mimpi. Dan yang ketiga, cukup tersenyumlah kepada mereka yang meremehkan mimpi-mimpi kita toh dengan itu mereka akan berhenti sendirinya. Jangan biarkan keraguan  membayangi setiap langkah demi langkah kaki kita.
Sesuatu apapun itu pasti mungkin, tidak ada yang tidak mungkin didunia ini. Hanya saja yang membedakan bagaimana cara kita menyikapi setiap kejadian yang kita alami dengan sikap yang terbaik, hal itu harus menjadi indikator kita untuk lebih bersemangat dan berusaha ekstra keras demi mewujudkan impian yang didambakan.
Tapi ada satu hal yang gak boleh dilupakan, hati-hati, jangan sampai dengan mimpu menyebabkan kita syirik terhadap buah tidur tersebut. Nabi Muhammad saw membagi mimpi menjadi dua yaitu mimpi yang baik dan mimpi yang buruk. Dalam hadisnya beliau menuturkan,Artinya:” Mimpi yang bagus berasal dari Allah SWT, jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang bagus (disukai), jangan sekali-kali menceritakan kepada yang lain, kecuali pada orang yang engkau sukai (dipercaya). Jika di antara kalian bermimpi sesuatu yang tidak engkau sukai, maka mohonlah pertolongan Allah dari kejelekan mimpi itu, dan juga dari kejelekan syetan, dan meludahlah tiga kali (ke-kiri), selanjutnya tidak diceritakan kepada siapapun perihal mimpi itu. Niscaya mimpi itu tidak akan berpenggaruh. (H.R.Bukhori)
Dan inngaaaattttttt…..jangan pernah berhenti bemimpi dan jangan pernah menyerah mewujudkan mimpi meskipun banyak yang meragukan. Percayalah suatu saat nanti pasti akan terjadi keajaiban mimpi yang akan mewarnai hidupmu di masa yang akan datang…..
KEEP YOUR DREAM & KEEP SPIRIT
TO REACH YOUR DREAMALLAH NEAR IN OUR LIFE.

Selasa, 21 Februari 2012
By. Fatori Pamekasan

Senin, 27 Februari 2012

Detik-Detik Wafatnya Rasulullah


Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya. Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap. Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan kutbah,
“Wahai umatku, kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur’an dan sunnahku. Barang siapa mencintai sunnahku, bererti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku, akan masuk syurga bersama-sama aku.”
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca, Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang dan Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.
“Rasulullah akan meninggalkan kita semua,”keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda-tanda itu semakin kuat, tatkala Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup. Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam. “Bolehkah saya masuk?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk, “Maafkanlah, ayahku sedang demam,” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah, “Siapakah itu wahai anakku?” “Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya,” tutur Fatimah lembut.
Lalu, Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
“Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut,” kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya. Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
“Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?” Tanya Rasululllah dengan suara yang amat lemah.
“Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril. Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.
“Engkau tidak senang mendengar khabar ini?” Tanya Jibril lagi.
“Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?” “Jangan khawatir, wahai Rasul Allah, aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku: ‘Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya,” kata Jibril.
Detik-detik semakin dekat, saatnya Izrail melakukan tugas. Perlahan ruh Rasulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh, urat-urat lehernya menegang.
“Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini.” Perlahan Rasulullah mengaduh. Fatimah terpejam, Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?” Tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
“Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik, kerana sakit yang tidak tertahankan lagi. “Ya Allah, dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku.”Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu, Ali segera mendekatkan telinganya. “Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku, peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan. Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
“Ummatii, ummatii, ummatiii?” – “Umatku, umatku, umatku”
Dan, berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu. Kini, mampukah kita mencintai sepertinya? Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa baarik wa salim ‘alaihi
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita. Kirimkan kepada sahabat-sahabat muslim lainnya agar timbul kesedaran untuk mencintai Allah dan RasulNya, seperti Allah dan Rasulnya mencintai kita. Kerana sesungguhnya selain daripada itu hanyalah fana belaka. Amin…

Sabtu, 21 Januari 2012

Kesulitan Belajar


BAB I
PENDAHULUAN

1.1         Latar Belakang

Belajar adalah suatu proses adaptasi yang berlangsung secara progressif, juga merupakan suatu proses perubahan yang menyangkut tingkah laku atau kejiwaan. Jadi dapat diartikan proses belajar adalah sebagai tahapan perubahan perilaku kognitif, afektif dan psikomotor yang terjadi dalam diri siswa. Perubahan tersebut bersifat positif dalam arti berorientasi ke arah yang lebih maju daripada keadaan sebelumnya.
Belajar adalah kegiatan yang berproses dan merupakan unsur yang sangat fundamental dalam penyelenggaraan setiap jenis dan jenjang pendidikan. Belajar juga memainkan peran penting dalam mempertahankan kehidupan sekelompok umat manusia di tengah-tengah persaingan yang semakin ketat di antara bangsa-bangsa lainnya yang lebih dahulu maju karena belajar.
Dalam pelaksanaan tugas pembelajaran, seorang pendidik tidak hanya berkewajiban menyajikan materi pembelajaran dan mengevaluasi pekerjaan siswa, akan tetapi bertanggung jawab terhadap pelaksanaan bimbingan belajar. Sebagai pembimbing seorang pendidik mengadakan pendekatan bukan saja melalui pendekatan instruksional, akan tetapi dibarengi dengan pendekatan yang bersifat pribadi (personal approach) dalam setiap proses belajar mengajar berlangsung. Melalui pendekata pribadi guru akan langsung mengenal dan memahami siswa secara lebih mendalam, sehingga dapat memproleh hasil belajar yang optimal.
Dalam proses pembelajaran tentunya seringkali ditemukan permasalahan yang menyangkut perkembangan siswa baik dari tingkahlakunya maupun pola berpikirnya dalam menyerap semua ilmu yang diterimanya. Bahkan juga sering ditemukan kesulitan-kesulitan pendidik ketika menghadapi peserta didik yang kurang mampu menyerap materi pelajaran dalam proses belajar mengajar. Hal itu bisa disebabkan oleh banyak faktor.
Dengan penjelelasan diatas, maka makalah ini akan memberikan paparan tentang kesulitan belajar yang dialami oleh setiap peserta didik serta bagaimana solusi yang harus diberikan dan mampu mengatasi kesulitan belajar tersebut.

1.2         Rumusan Masalah
Adapun permaslaahan dalam pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Apa yang dimaksud dengan kesulitan belajar serta faktor yang mempengaruhinya?
2.      Bagaimana Cara mengatasi kesulitan belajar?

1.3         Tujuan
Adapun tujuan dari pembahasan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui kesulitan belajar dan faktor-faktor yang memepengaruhinya.
2.      Untuk mengetahui bagaimana cara mengatasi kesulitan belajar yang dialami oleh siswa.






















BAB II
PEMBAHASAN

2.1         Kesulitan Belajar Dan Faktor Yang Mempengaruhinya
 Kesulitan belajar yang didefenisikan oleh The United States Office of Education (USOE) yang dikutip oleh Abdurrahman (2003 : 06) menyatakan bahwa kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan.
Di samping defenisi tersebut, ada definisi lain yang yang dikemukakan oleh The National Joint Commite for Learning Dissabilites (NJCLD) dalam Abdurrahman (2003 : 07) bahwa kesulitan belajar menunjuk kepada suatu kelompok kesulitan yang didefenisikan dalam bentuk kesulitan nyata dalam kematian dan penggunan kemampuan pendengaran, bercakap-cakap, membaca, menulis, menalar atau kemampuan dalam bidang studi matematika.
Perubahan tingkah laku merupakan salah satu tujuan belajar, namun ada beberapa faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar. Faktor yang mempengaruhi kesulitan dalam belajar ada 2 macam, yaitu :
1.        Faktor Intern Belajar
Faktor intern merupakan faktor yang berasal dari dalam individu sendiri, misalnya kematangan, kecerdasan, motivasi dan minat.berikut adalah faktor intern belajar:
a.         Kematangan
Karena kematangan mentalnya belum matang, kita akan sukar mengajarkan konsep-konsep ilmu Filsafat kepada siswa sekolah dasar. Pemberian materi tertentu akan tercapai apabila sesuai dengan tingkat pertumbuhan dan perkembangan individu atau siswa. Oleh karena itu, baik potensi jasmani maupun rohaninya perlu dipertimbangkan lagi kematangannya.
b.         Kecerdasan (IQ)
Keberhasilan individu mempelajari berbagai pengetahuan ditentukan pula oleh tingkat kecerdasannya, misalnya, suatu ilmu pengetahuan telah cukup untuk dipelajari oleh seseorang individu dalam taraf usia tertentu. Tetapi kecerdasan individu yang bersangkutan kurang mendukung, maka pengetahuan yang telah dipelajarinya tetap tidak akan dimengerti olehnya. Demikian pula dalam hal-hal yang lain, seperti dalam mengerjakan pekerjaan sehari-hari, misalnya memasak dan membuat mainan sederhana, dalam tingkat yang sama tidak semuanya individu mampu mengerjakannya dengan baik.
c.         Motivasi
Motivasipun menentukan keberhasilan belajar. Motivasi merupakan dorongan untuk mengerjakan sesuatu. Dorongan tersebut ada yang datang dari dalam individu yang bersangkutan dan ada pula yang datang dari luar individu yang bersangkutan, seperti peran orang tua, teman dan guru.
d.        Minat
Minat belajar dari dalam individu sendiri merupakan faktor yang sangat dominan dalam pengaruhnya pada kegiatan belajar, sebab kalau dari dalam diri individu tidak mempunyai sedikitpun kemauan atau minat untuk belajar, maka pelajaran yang telah diterimanya hasilnya akan sia-sia. Otomatis pelajaran tersebut tidak masuk sama sekali di dalam IQ-nya.
2.        Faktor Ekstern Belajar
Faktor ekstern erat kaitannya dengan faktor sosial atau lingkungan individu yang bersangkutan. Misalnya keadaan lingkungan keluarga, lingkungan masyarakat , guru dan alat peraga yang dipergunakan di sekolah.adapun faktor ekstern dari belajar adalah sebagai berikut:
a.                                 Lingkungan Keluarga
Lingkungan keluarga pun sangat menentukan keberhasilan belajar. Status ekonomi, status sosial, kebiasaan dan suasana lingkungan keluarga ikut serta mendorong terhadap keberhasilan belajar. Suasana keluarga yang tentram dan damai sangat menunjang keharmonisan hubungan keluarga. Hubungan orang tua dan anak akan dirasakan saling memperhatikan dan melengkapi. Apabila anak menemukan kesulitan belajar, dengan bijaksana dan penuh pengertian orang tuanya memberikan pandangan dan pendapatnya terhadap penyelesaian masalah belajar anaknya.
b.                                 Lingkungan Masyarakat
Peran masyarakat sangat mempengaruhi individu dalam belajar. Setiap pola masyarakat yang mungkin menyimpang dengan cara belajar di sekolah akan cepat sekali menyerap ke diri individu, karena ilmu yang didapat dari pengalamannya bergaul dengan masyarakat akan lebih mudah diserap oleh individu daripada pengalaman belajarnya di sekolah. Jadi peran masyarakat akan dapat merubah tingkah laku individu dalam proses belajar.
c.                                 Guru
Peran guru dapat mempengaruhi belajar. Bisa dilihat dari cara guru mengajar kepada siswa, hal ini sangat menentukan dalam keberhasilan belajar. Sikap dan kepribadian guru, dasar pengetahuan dalam pendidikan, penguasaan teknik-teknik mengajar, dan kemampuan menyelami alam pikiran setiap individu siswa merupakan hal yang sangat penting. Oleh karena itu, guru sebagai motivator, guru sebagai fasilitator, guru sebagai inovator, dan guru sebagai konduktor masalah-masalah individu siswa, perlu menjadi acuan selama proses pendidikan berlangsung.
d.                                Bentuk Alat Pelajaran
Bentuk alat pelajaran bisa berupa buku-bukun pelajaran, alat peraga, alat-alat tulis menulis dan sebagainya. Kesulitan untuk mendapatkan atau memiliki alat-alat pelajaran secara langsung maupun tidak langsung dapat mempengaruhi keberhasilan dalam belajar siswa. Siswa akan cenderung berhasil apabila dibantu oleh alat-alat pelajaran yang memadai. Alat pelajaran tersebut akan menunjang proses pemahaman anak. Misalnya, melalui praktek sederhana dari materi pelajaran yang telah mereka pelajari.
e.                                 Kesempatan Belajar
Kesempatan belajar merupakan faktor yang sedang diupayakan Pemerintah melalui Wajib Belajar (Wajar) Pendidikan Dasar 9 Tahun yang mulai dicanangkan tahun pelajaran 1994/1995. Pencanangan Wajar tersebut merupakan alternatif pemberian kesempatan kepada para siswa, terutama bagi mereka yang orang tuanya berekonomi kurang mampu.
Seorang anak yang tidak memiliki kesempatan belajar karena secara ekonomis kurang mampu, tetapi di sisi lain anak tersebut berintelegensi tinggi, maka ia akan menemukan hambatan dalam penyaluran aspirasi cita-citanya secara utuh. Walaupun motivasi begitu tinggi untuk mencapai tujuan yang diinginkannya, tetapi apabila tidak didukung oleh ekonomi yang cukup, maka akan menemukan kendala yang relatif serius. Begitu pula sebaliknya, seorang anak dari keluarga yang mampu, memiliki intelegensi yang tinggi, bersekolah di sekolah favourit, dan ditunjang oleh sarana dan prasarana yang serba ada, belum tentu dapat belajar dengan baik, sebab masih ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi anak tersebut untuk belajar dengan baik, seperti motivasi belajar, keharmonisan lingkungan keluarga, jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh sehingga melelahkan, perhatian khusus dari guru kelas, serta hal-hal lain yang memungkinkan ketidak berhasilan siswa tersebut.
Fenomena lain kesulitan belajar seorang siswa biasanya tampak jelas dari menurunnya kinerja akademik atau prestasi belajarnya. Namun, kesulitan belajar juga dapat dibuktikan dengan munculnya kelainan perilaku siswa seperti kesukaan berteriak-teriak di dalam kelas, mengusik teman, berkelahi, sering tidak masuk sekolah dan sering minggat dari sekolah. Hal ini dapat disebabkan oleh berbagai hal, seperti :
1.              Rendahnya kemampuan intelektual anak
2.              Gangguan perasaan / emosi
3.              Kurangnya motivasi untuk belajar
4.              Kurang matangnya anak untuk belajar
5.              Usia yang terlalu muda
6.              Latar belakang sosial yang tidak menunjang
7.              Kebiasaan belajar yang kurang baik
8.              Kemampuan mengingat yang rendah
9.              Terganggunya alat-alat indera
10.           Proses belajar mengajar yang tidak sesuai
11.          Tidak adanya dukungan dari lingkungan belajar.
2.2         Cara Mengatasi Kesulitan Belajar
Tugas pendidik atau guru adalah mempersiapkan generasi bangsa agar mampu menjalani kehidupan dengan sebaik-baiknya dikemudian hari sebagai khalifah Allah di bumi. Dalam menjalankan tugas ini pendidikan berupaya mengembangkan potensi (fitrah) sebagai anugrah Allah yang tersimpan dalam diri anak, baik yang bersifat jasmaniah maupun ruhaniah, melalui pembelajaran sebuah pengetahuan, kecakapan, dan pengalaman berguna bagi hidupnya. Dengan demikian pendidikan yang pada hakekatnya adalah untuk memanusiawikan manusia memiliki arti penting bagi kehidupan anak. Hanya pendidikan yang efektif yang mampu meningkatkan kualitas hidup dan mengantarkan anak survive dalam hidupnya.
Secara umum guru berarti orang yang dapat menjadi anutan serta menjadikan jalan yang baik demi kemajuan. Sejak berlakunya kurikulum 1995, pengertian guru mengalami penyempurnaan, menurut kurikulum 1995 ialah “Guru adalah perencana dan pelaksana dari sistem pendidikan untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan”. Guru adalah pihak utama yang langsung berhubungan dengan anak dalam upaya proses pembelajaran, peran guru itu tidak terlepas dari keberadaan kurikulum.
Peranan guru sangat penting dalam pelaksanaan proses pembelajaran, selain sebagai nara sumber guru juga merupakan pembimbing dan pengayom bagi para murid yang ada dalam suatu kelompok belajar. hal tersebut sesuai dengan ungkapan T. Rustandy (1996 : 71) yang mengatakan bahwa : Guru memegang peranan sentral dalam proses pembelajaran, memiliki karakter dan kepribadian masing-masing yang tercermin dalam tingkah laku pada waktu pelaksanaan proses pembelajaran. Pola tingkah laku guru dalam proses pembelajaran biasanya ditiru oleh siswa dalam perjalanan hidup sehari-hari, baik di lingkungan keluarga ataupun masyarakat, karena setiap siswa mempunyai keragaman dalam hal kecakapan maupun kepribadian. Keragaman kecakapan dan kepribadian ini mempengaruhi terhadap situasi yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
Tetapi menurut Brenner (1990) sebenarnya pendidikan anak prasekolah terefleksi dalam alat-alat perlengkapan dan permainan yang tersedia, cara perlakuan guru terhadap anak, adegan dan desain kelas, serta bangunan fisik lainnya yang disediakan untuk anak. (M. Solehuddin, 1997 : 55).
Adapun syarat-syarat bagi guru pada umumnya, termasuk di dalamnya guru agama, telah tercantum dalam Undang-Undang Pendidikan dan Pengajaran Nomor 4 Tahun 1950 Bab X Pasal 15 yang berbunyi : “Syarat utama menjadi guru selain ijazah dan syarat-syarat lain mengenai kesehatan jasmani dan rohani, ialah sifat-sifat yang perlu untuk dapat memberikan pengajaran”. (Zuhairini, 1983 :35).
Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan Guru Kelas kerap kali memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman yang serba kompleks.Berikut ini beberapa alternatif dalam kesulitan belajar :
1.             Observasi Kelas
Pada tahap ini observasi kelas dapat membantu mengurangi kesulitan dalam tingkat pelajaran, misalnya memeriksa keadaan secara fisik bagaimana kondisi kelas dalam kegiatan belajar, cukup nyaman, segar, sehat dan hidup atau tidak. Kalau suasana kelas sangat nyaman, tenang dan sehat, maka itu semua dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih semangat lagi.
2.             Pemeriksaan Alat Indera
Dalam hal ini dapat difokuskan pada tingkat kesehatan siswa khusus mengenai alat indera. Diupayakan minimal dalam sebulan sekali pihak sekolah melakukan tes atau pemeriksaan kesehatan di Puskesmas / Dokter, karena tingkat kesehatan yang baik dapat menunjang pelajaran yang baik pula. Maka dari itu, betapa pentingnya alat indera tersebut dapat menstimulasikan bahan pelajaran langsung ke diri individu.
3.             Teknik Main Peran
Disini, seorang guru bisa berkunjung ke rumah seorang murid. Di sana seorang guru dapat leluasa melihat, memperhatikan murid berikut semua yang ada di sekitarnya. Di sini guru dapat langsung melakukan wawancara dengan orang tuanya mengenai kepribadian anak, keluarga, ekonomi, pekerjaan dan lain-lain. Selain itu juga, guru bisa melihat keadaan rumah, kondisi dan situasinya dengan masyarakat secara langsung.
4.              Tes Diagnostik Kecakapan/Tes IQ/Psikotes
Dalam hal ini seorang guru dapat mengetahui sejauh mana IQ seseorang dapat dilihat dengan cara menjawab pertanyaan-pertanyaan praktis dan sederhana. Dengan latihan psikotes dapat diambil beberapa nilai kepribadian siswa secara praktis dari segi dasar, logika dan privasi seseorang.
5.             Menyusun Program Perbaikan
Penyusunan program hendaklah dimulai dari segi pengajar dulu. Seorang pengajar harus menjadi seorang yang konsevator, transmitor, transformator, dan organisator. Selanjutnya lengkapilah beberapa alat peraga atau alat yang lainnya yang menunjang pengajaran lebih baik, karena dengan kelengkapan-kelengkapan yang lebih kompleks, motivasi belajarpun akan dengan mudah didapat oleh para siswa.
Hendaklah semua itu disadari sepenuhnya oleh para pengajar sehingga tidak ada lagi kendala dan hambatan yang dapat mempengaruhi kegiatan belajar. Selain itu tingkat kedisiplinan yang diterapkan di suatu sekolah dapat menunjang kebaikan dalam proses belajar. Disiplin dalam belajar akan mampu memotivasi kegiatan belajar siswa.

























BAB III
PENUTUP

2.1         Kesimpulan
kesulitan belajar adalah suatu gangguan dalam satu atau lebih dari proses psikologis dasar yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa ajaran atau tulisan. Faktor-faktor yang mempengaruhi kesulitan pelajar dibedakan menajdi 2, yaitu faktor Intern dan faktor exstern. Beberapa cara mengatasi kesulitan dalam belajar dapat dilakukan dengan cara belajar yang efektif dan efisien. Cara demikian merupakan problematika yang perlu mendapatkan perhatian cukup serius. Orang tua dan Guru Kelas kerap kali memberikan saran-saran kepada siswa agar rajin belajar karena rajin adalah pangkal cerdas. Orang cerdas akan mampu mengembangkan dirinya sesuai dengan perkembangan zaman yang serba kompleks.

2.2         Saran
Usaha untuk mengatasi kesulitan belajar bisa dengan cara membangkitkan motivasi, seperti guru berupaya dalam menyampaikan pelajaran dengan tujuan yang jelas dan menarik, menciptakan suasana yang menyenangkan, memberikan pujian, menghargai pekerjaan siswa, dan memberikan kritik dengan bijaksana, Salah satu cara yang dapat dilakukan guru dalam rangka membangkitkan motivasi belajar untuk pembentukan karakter anak antara lain,Mengusahakan agar tujuan belajar jelas dan menarik,Menciptakan suasana yang menyenangkan, Mengusahakan agar siswa aktif belajar, Menghubungkan pelajaran dengan kebutuhan siswa, Memberi ulangan dan tugas sesuai dengan keadaan siswa, Memberitahukan hasil pekerjaan siswa, Memberikan hadiah dan pujian, Memberikan kritik dengan bijaksana.
Tentunya dalam makalah ini akan ditemukan kelemahan-kelemahan atau bahkan kekeliruan. Karena itu, penulis sangat berharap adanya masukan dari pembaca serta kritik konstruktif sebagai upaya pembangunan mental guna penyelesaian pada makalah-makalah selanjutnya. Dan hal itu penulis harapkan dengan krendahn hati dan ketulusan jiwa.
DAFTAR PUSTAKA

1.                                          Dra. Jojoh Nurdiana, dkk.(2005) Konsep Dasar Pendidikan Prasekolah.
2.                                          Nasution Noehi, Drs. dkk. 1994. Buku Modul 1 – 6.
3.                                          Tini Sumartini, S.Pd. (206). Perkembangan Belajar Anak Usia Prasekolah
4.                                           Pusat Pengembangan Penataran Guru Tertulis, Bandung
5.                                          Syah Muhibbin, M.Ed. 1995. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru.



Rabu, 23 November 2011
by. Fatori Pamekasan